FluentFiction - Indonesian

Secrets Among the Rice Fields: A Journey of Trust in Ubud

FluentFiction - Indonesian

Unknown DurationAugust 13, 2026
Checking access...

Loading audio...

Secrets Among the Rice Fields: A Journey of Trust in Ubud

1x
0:000:00

Sign in for Premium Access

Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.

View Mode:
  • Langit cerah di atas Ubud, di mana sawah yang hijau membentang sejauh mata memandang.

    The sky was clear above Ubud, where the green rice fields stretched as far as the eye could see.

  • Bima dan Rina berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan kecil di antara padi.

    Bima and Rina walked hand in hand along the small path between the paddy fields.

  • Mereka menikmati suasana damai musim kemarau ini.

    They enjoyed the peaceful atmosphere of this dry season.

  • Rina tersenyum, menikmati waktu tenang bersama Bima, meski Bima tampak lebih sering terdiam.

    Rina smiled, savoring the quiet time with Bima, even though Bima seemed to be more often silent.

  • Di dadanya, ia menyimpan sebuah rahasia yang menyesakkan.

    In his chest, he harbored a suffocating secret.

  • Di tengah rencana liburan ini, datanglah Ayu, adik perempuan Bima, yang tiba-tiba muncul di depan vila tempat mereka menginap.

    In the midst of this holiday plan, came Ayu, Bima's younger sister, who suddenly appeared in front of the villa where they were staying.

  • Rina terkejut, "Ayu, kamu ke sini juga?

    Rina was surprised, "Ayu, you came here too?"

  • " tanyanya dengan ramah.

    she asked warmly.

  • Ayu tersenyum.

    Ayu smiled.

  • "Iya, aku ingin menghabiskan waktu dengan kalian," jawabnya.

    "Yes, I want to spend time with you guys," she replied.

  • Namun, tatapan mata Ayu kepada Bima mengisyaratkan sesuatu yang lebih serius.

    However, Ayu's gaze at Bima signaled something more serious.

  • Bima merasa gelisah dengan kedatangan Ayu yang tidak terduga.

    Bima felt uneasy with Ayu's unexpected visit.

  • Malam harinya, duduk di teras vila yang dikelilingi aroma harum bunga kenanga, kegelisahan Bima semakin besar.

    That night, sitting on the villa terrace surrounded by the fragrant scent of kenanga flowers, Bima's unease grew.

  • Rina merasa adanya ketegangan.

    Rina sensed the tension.

  • "Bima, ada yang ingin kamu ceritakan?

    "Bima, is there something you want to tell me?"

  • " tanya Rina dengan lembut.

    Rina asked gently.

  • Bima tersentak, namun sebelum ia menjawab, Ayu yang duduk di sebelahnya meletakkan tangan di pundaknya.

    Bima was startled, but before he could answer, Ayu sitting beside him placed a hand on his shoulder.

  • "Aku tahu ada sesuatu yang ingin Bima sampaikan, Rina," kata Ayu.

    "I know there's something Bima wants to say, Rina," said Ayu.

  • Bima menghela napas panjang, pandangannya terarah ke tanah.

    Bima took a deep breath, his gaze directed to the ground.

  • Di saat inilah, Ayu membuka mulut, bersiap untuk mengungkapkan kebenaran yang telah lama disimpan—Bima pernah merencanakan pindah ke luar negeri tanpa memberitahu Rina.

    It was at this moment that Ayu opened her mouth, ready to reveal the truth that had been kept for a long time—Bima had once planned to move abroad without telling Rina.

  • "Maafkan aku, Rina," kata Bima, suaranya lemah.

    "I'm sorry, Rina," said Bima, his voice weak.

  • "Aku takut bagaimana reaksimu jika aku memberitahumu sebelumnya.

    "I was afraid of how you would react if I told you before.

  • Aku ragu dan bingung.

    I was doubtful and confused."

  • "Rina terdiam sejenak, mencoba mencerna semuanya.

    Rina was silent for a moment, trying to digest everything.

  • "Bima, kenapa tidak dari dulu kamu cerita?

    "Bima, why didn't you tell me before?"

  • " tanyanya pelan, menahan perasaan sedih dan terkejut.

    she asked softly, holding back feelings of sadness and surprise.

  • Ayu menunduk, merasa bersalah telah membuka rahasia tersebut, namun tahu itu perlu dilakukan.

    Ayu bowed her head, feeling guilty for revealing the secret, but knowing it needed to be done.

  • Kemudian, hening menguasai suasana.

    Then, silence took over the atmosphere.

  • Dengan semua keberanian yang ia punya, Bima berkata, "Aku memutuskan tidak pergi, karena kamu lebih penting bagiku.

    With all the courage he had, Bima said, "I decided not to go, because you mean more to me."

  • "Hati Rina berdenyut kencang.

    Rina's heart pounded.

  • Ia melihat ketulusan mata Bima yang memohon maaf.

    She saw the sincerity in Bima's eyes pleading for forgiveness.

  • Rina mengambil napas dalam.

    Rina took a deep breath.

  • "Aku butuh waktu untuk berpikir, Bima.

    "I need time to think, Bima.

  • Tapi aku mengerti bahwa setiap hubungan punya kompleksitas sendiri," ujarnya, sedikit lega mengetahui keputusan Bima.

    But I understand that every relationship has its own complexities," she said, feeling somewhat relieved about Bima's decision.

  • Malam itu, meski udara dingin musim kemarau menyelimuti, hati mereka mulai mencair kehangatannya.

    That night, although the cold dry-season air enveloped them, their hearts began to thaw in warmth.

  • Bima berjanji untuk lebih jujur dan terbuka, sementara Rina belajar memahami bahwa setiap hubungan punya sisi rumit yang perlu dihadapi bersama.

    Bima promised to be more honest and open, while Rina learned that every relationship has complex sides that need to be faced together.

  • Dan ketika pagi menyingsing, sawah Ubud seolah berkilau lebih cerah, melambangkan awal baru bagi Bima dan Rina.

    And when morning dawned, the Ubud rice fields seemed to shine brighter, symbolizing a new beginning for Bima and Rina.

  • Rina tahu bahwa keputusan ini adalah awal untuk mereka memahami dan melangkah maju dalam perjalanan cinta yang sebenarnya.

    Rina knew that this decision was the start for them to understand and move forward in the true journey of love.

  • Tanpa lebih banyak rahasia.

    Without more secrets.