
Rainy Day Resilience: Overcoming Exam Anxiety
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Rainy Day Resilience: Overcoming Exam Anxiety
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Di tengah hujan deras yang terus menerus menyiram atap sekolah, Bintang duduk di pojok kantin.
In the middle of the heavy rain continuously pouring down on the school roof, Bintang sat in the corner of the canteen.
Tangannya gemetar memegang selembar kertas penuh soal matematika.
His hands trembled as he held a sheet full of math problems.
Sejak pagi, Ayu duduk menemani.
Since morning, Ayu had been sitting with him.
"Santai, Bintang.
"Relax, Bintang.
Kita bisa belajar bersama.
We can study together.
Ingat, kita harus tetap tenang," kata Ayu dengan senyum menenangkan.
Remember, we have to stay calm," said Ayu with a calming smile.
Meski begitu, kata-kata Wira terus bergema di kepala Bintang.
Even so, Wira's words kept echoing in Bintang's head.
"Nilai ujian akhir ini penting banget!
"The final exam score is really important!
Kalau gagal, kita bisa nggak lulus…" kata Wira kemarin saat di kelas.
If we fail, we might not graduate…" Wira said yesterday in class.
Bintang menghela napas berat.
Bintang took a deep breath.
Dia tahu, untuk mengatasi rasa cemasnya, dia harus mencari tempat lain untuk belajar.
He knew that to overcome his anxiety, he needed to find another place to study.
Dia merindukan kehangatan dan kedamaian yang terkadang ditemukannya di bangsal psikiatri ketika mengunjungi bibinya.
He missed the warmth and peace he sometimes found in the psychiatric ward when visiting his aunt.
Setelah sekolah, Bintang dan Ayu berjalan menuju rumah sakit.
After school, Bintang and Ayu walked toward the hospital.
Bangsal psikiatri itu terletak di sudut bangunan, agak sunyi dari hiruk pikuk.
The psychiatric ward was located in a corner of the building, somewhat quiet from the hustle and bustle.
Huja deras menciptakan irama menenangkan di atap.
The heavy rain created a soothing rhythm on the roof.
Suara hujan ini menjadi terapi yang aneh bagi Bintang.
This sound of rain became a strange kind of therapy for Bintang.
Di sana, Bintang duduk di bangku panjang di depan kamar bibinya.
There, Bintang sat on a long bench in front of his aunt’s room.
Bibinya tersenyum tipis begitu melihat Bintang dan Ayu masuk.
His aunt gave a faint smile as soon as she saw Bintang and Ayu enter.
"Bagaimana kabar sekolah, Bintang?
"How's school, Bintang?"
" tanya bibinya lembut, sambil menepuk-nepuk bantal di sampingnya untuk mengajak Bintang duduk.
his aunt asked gently, patting the pillow beside her to invite Bintang to sit.
Setelah beberapa menit, Bintang mulai merasa berat di dadanya.
After a few minutes, Bintang began to feel a heaviness in his chest.
Nafasnya pendek dan cepat.
His breaths were short and quick.
Ayu cepat sigap, menggenggam tangan Bintang.
Ayu quickly reacted, holding Bintang's hand.
"Ingat, kita di sini.
"Remember, we are here.
Bibimu adalah wanita terkuat yang pernah kamu kenal.
Your aunt is the strongest woman you’ve ever known.
Kamu bisa menjadi kuat seperti dia.
You can be strong like her."
"Kata-kata Ayu memberi ketenangan pada Bintang.
Ayu's words provided Bintang with calm.
Nafasnya perlahan mulai teratur.
His breath slowly became regular.
Bibinya tersenyum lembut dan berkata, "Kadang, kita harus mengingat bahwa semua badai pasti berlalu.
His aunt smiled softly and said, "Sometimes, we have to remember that every storm will pass.
Yang penting adalah bertahan di tengahnya.
What's important is to endure through it.
Semua yang kamu kerja keras untuknya akan terbayar.
Everything you work hard for will be worth it."
"Kata-kata itu menancap dalam pada Bintang.
Those words struck deeply within Bintang.
Dia sadar, mungkin dirinya bisa bertahan, seperti bibinya, meski di tengah badai kecemasan.
He realized that maybe he could endure, like his aunt, even in the midst of an anxiety storm.
Dengan perasaan baru yang lebih tenang, Bintang kembali belajar.
With a newfound sense of calm, Bintang resumed studying.
Ketika hari ujian tiba, Bintang duduk di kelas dengan lebih percaya diri.
When the exam day arrived, Bintang sat in class with more confidence.
Meskipun hujan di luar masih deras, dalam hatinya, dia merasa lebih damai.
Although the rain outside was still pouring heavily, in his heart, he felt more at peace.
Dia tahu, seperti hujan yang terus turun lalu berlalu, demikian pula dengan kecemasannya.
He knew, just as the rain continues to fall and then passes, so too would his anxiety.
Bintang mungkin tidak pernah sepenuhnya bebas dari cemas, tetapi dia telah menemukan cara untuk menghadapinya.
Bintang may never be entirely free from anxiety, but he had found a way to face it.
Dengan keyakinan tersebut, ia menyelesaikan ujian akhirnya, siap menghadapi apa pun yang datang—dengan tenang dan penuh keberanian.
With that conviction, he completed his final exam, ready to face whatever comes—with calmness and bravery.