
Rediscovering Roots: Dewi's Ramadan Revelation at Borobudur
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Rediscovering Roots: Dewi's Ramadan Revelation at Borobudur
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Dewi melangkah ragu-ragu di halaman Candi Borobudur yang megah.
Dewi walked hesitantly through the courtyard of the magnificent Candi Borobudur.
Di sekelilingnya, keramaian orang-orang menyambut Ramadan dengan tawa dan cerita.
Around her, the festive crowd welcomed Ramadan with laughter and stories.
Lampu-lampu kecil menggantung di pepohonan, berkerlap-kerlip menyambut malam yang damai.
Small lights hung from the trees, twinkling in greeting to the peaceful evening.
"Selamat datang, Dewi!
"Welcome, Dewi!"
" Budi, sepupunya, menyambutnya dengan hangat.
Budi, her cousin, greeted her warmly.
"Ayo, semua sudah menunggumu.
"Come on, everyone is waiting for you."
"Dewi tersenyum kecil, berusaha mengusir kecanggungannya.
Dewi smiled slightly, trying to shake off her awkwardness.
Di Jakarta, hidupnya sibuk dan serba cepat.
In Jakarta, her life was busy and fast-paced.
Begitu berbeda dengan suasana di sini.
So different from the atmosphere here.
Di desa, semua berjalan lambat dan penuh kebersamaan.
In the village, everything moved slowly and was full of togetherness.
"Kamu pasti sibuk sekali di Jakarta," kata Sari, sepupu lainnya, saat mereka berjalan menuju kelompok keluarga.
"You must be very busy in Jakarta," said Sari, another cousin, as they walked toward the family group.
"Apa kabar?
"How are you?"
"Dewi menarik napas panjang sebelum menjawab.
Dewi took a deep breath before answering.
"Iya.
"Yes.
Sibuk sekali," ujarnya.
Very busy," she said.
"Tapi aku baik-baik saja.
"But I'm doing okay."
"Mereka bergabung dengan keluarga besar yang duduk di tikar di samping candi.
They joined the extended family seated on mats beside the temple.
Di depan mereka, makanan berbuka puasa telah siap, menggoda dengan aroma yang membuat perut Dewi keroncongan.
In front of them, the iftar meal was ready, tempting with aromas that made Dewi's stomach rumble.
"Sabar sedikit lagi," Budi berkata sambil menatap arloji.
"Just a little longer," Budi said, glancing at his watch.
"Sebentar lagi azan maghrib.
"It'll be maghrib call to prayer soon."
"Saat azan berkumandang, semua terdiam penuh haru.
As the call to prayer echoed, everyone fell silent with emotion.
Dewi merasakan hangatnya kebersamaan ini.
Dewi felt the warmth of togetherness.
Satu per satu mereka menyantap hidangan dengan syukur, melantunkan doa dalam hati masing-masing.
One by one they began their meal with gratitude, whispering prayers in their hearts.
Setelah berbuka, keluarga bergerak bersama menuju bagian atas candi untuk melaksanakan shalat maghrib.
After iftar, the family moved together toward the top of the temple to perform the maghrib prayer.
Dewi merasakan angin sore yang sejuk dan aroma dupa yang membelai lembut hidungnya.
Dewi felt the cool evening breeze and the fragrance of incense gently brushing her nose.
Saat berdiri di sana, menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik gunung, Dewi merenung.
As she stood there, watching the sun slowly dip behind the mountains, Dewi reflected.
Ia merasa kecil di hadapan keindahan ini, namun juga merasa lebih dekat dengan akar budayanya.
She felt small in the presence of such beauty, yet also felt closer to her cultural roots.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Dewi merasa benar-benar terhubung dengan keluarganya, dengan tradisi yang telah lama ia abaikan demi kesibukan kota.
For the first time in a long time, Dewi felt genuinely connected to her family and the traditions she had long neglected in favor of the city's busyness.
Selesai shalat, Dewi berjalan berdampingan dengan Budi dan Sari.
After prayer, Dewi walked alongside Budi and Sari.
"Terima kasih," kata Dewi pada mereka.
"Thank you," Dewi said to them.
"Aku merasa beruntung bisa ada di sini.
"I feel lucky to be here."
""Kami yang beruntung," kata Sari lembut.
"We're the lucky ones," Sari replied gently.
"Kita keluarga.
"We are family."
"Malam itu, mereka duduk di bawah bintang-bintang, berbagi cerita dan tawa.
That night, they sat under the stars, sharing stories and laughter.
Dewi menyadari, dia tak perlu memilih antara hidup di kota dan menjaga tradisi keluarganya.
Dewi realized that she didn't have to choose between life in the city and maintaining her family's traditions.
Kedua-duanya bisa berjalan beriringan, dan dia siap merangkul keduanya.
Both could coexist, and she was ready to embrace them both.
Saat kembali ke Jakarta setelah liburan selesai, Dewi membawa pulang hatinya yang lebih ringan.
When returning to Jakarta after the holiday was over, Dewi carried home a lighter heart.
Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mengunjungi keluarganya lebih sering, merawat hubungan yang selama ini terasa renggang.
She promised herself to visit her family more often, nurturing relationships that had felt distant.
Dalam perjalanan pulang, Dewi tersenyum ketika memikirkan pertemuan berikutnya di Candi Borobudur, tempat di mana ia menemukan kembali bagian dari dirinya yang hilang di tengah hiruk pikuk kota.
As she headed home, Dewi smiled when thinking about the next gathering at Candi Borobudur, a place where she rediscovered a piece of herself that had been lost amid the city's hustle and bustle.