FluentFiction - Indonesian

Graduation and Change: Dewi's Bold Farewell Speech

FluentFiction - Indonesian

Unknown DurationApril 7, 2026
Checking access...

Loading audio...

Graduation and Change: Dewi's Bold Farewell Speech

1x
0:000:00

Sign in for Premium Access

Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.

View Mode:
  • Hujan deras terdengar di luar gedung aula sekolah.

    The heavy rain could be heard outside the school auditorium building.

  • Suara tetesannya memberi ritme yang menenangkan, seakan alam ikut serta dalam acara kelulusan kami.

    The sound of the raindrops provided a calming rhythm, as if nature was participating in our graduation ceremony.

  • Teman-teman duduk rapi, menunggu giliran namaku dipanggil.

    My friends sat neatly, waiting for my name to be called.

  • Aku, Dewi, berdiri di balik panggung dengan hati yang berdebar.

    I, Dewi, stood behind the stage with a pounding heart.

  • Hari ini, di Sekolah Menengah Atas di Jakarta, aku harus memberikan pidato perpisahan.

    Today, at High School in Jakarta, I had to deliver the farewell speech.

  • Aku menengok ke arah Budi, yang berdiri di sampingku.

    I looked over at Budi, standing beside me.

  • Dia tersenyum membesarkan hati.

    He smiled encouragingly.

  • "Kamu bisa, Dewi," katanya pelan.

    "You can do it, Dewi," he said softly.

  • Aku tahu dia mendukungku, terutama dalam hal yang ingin kubicarakan: lingkungan dan manajemen sampah di sekolah ini.

    I knew he supported me, especially on the topic I wanted to discuss: the environment and waste management at our school.

  • Sebaliknya, Sari duduk manis di deretan kursi pertama, mengangguk pelan saat kedua mata kami bertemu.

    On the contrary, Sari sat primly in the front row, nodding slightly when our eyes met.

  • Sari lebih suka pidato yang aman, yang tidak menimbulkan kegaduhan.

    Sari preferred a safe speech that wouldn't cause a stir.

  • Dia takut pada reaksi sekolah jika aku membahas isu sensitif.

    She was afraid of the school's reaction if I raised sensitive issues.

  • Sebentar lagi perayaan Waisak.

    Soon it would be Waisak celebrations.

  • Umat Buddha di seluruh negeri bersiap-siap untuk merayakan hari kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddharta Gautama.

    Buddhists across the country were preparing to celebrate the birth, enlightenment, and passing of Siddhartha Gautama.

  • Ini adalah saat yang istimewa, dan aku merasa ada tanggung jawab lebih dalam menyampaikan pesan yang berarti hari ini.

    It was a special moment, and I felt an added responsibility to convey a meaningful message today.

  • Panggilan untuk naik ke panggung akhirnya tiba.

    The call to step onto the stage finally came.

  • Aku mengambil napas dalam-dalam dan melangkah ke hadapan teman-temanku.

    I took a deep breath and walked in front of my friends.

  • Udara terasa lembap dan sesak, tapi juga penuh harapan.

    The air felt humid and dense, but also full of hope.

  • Aku membuka pidato dengan senyuman, membiarkan suasana hening.

    I began my speech with a smile, letting the silence envelop.

  • "Teman-teman sekalian," suaraku terdengar jernih.

    "Friends," my voice rang clear.

  • "Hari ini kita berdiri di sini bukan hanya untuk merayakan kelulusan, tetapi juga untuk bersama-sama memandang masa depan.

    "Today we stand here not only to celebrate graduation but also to look together towards the future.

  • Sebagai generasi yang akan datang, kita memiliki tanggung jawab besar bagi bumi kita.

    As the next generation, we have a great responsibility for our earth."

  • "Aku menghentikan sejenak, melihat ke arah guruku yang duduk di barisan tengah.

    I paused for a moment, looking at my teacher sitting in the middle row.

  • Ada sedikit kegelisahan di wajah mereka, mungkin khawatir tentang apa yang akan kukatakan selanjutnya.

    There was a bit of anxiety on their faces, perhaps worried about what I would say next.

  • "Ada satu isu yang perlu kita hadapi," lanjutku, "dan itu adalah masalah sampah di sekolah kita.

    "There is one issue we need to address," I continued, "and that is the trash problem at our school.

  • Setiap hari, kita melihat tempat sampah yang meluap, dan plastik yang berserakan.

    Every day, we see overflowing trash bins and scattered plastics.

  • Ini bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang lingkungan.

    This is not just about cleanliness, but also about the environment.

  • Kita bisa melakukan lebih baik.

    We can do better."

  • "Para siswa mulai berbisik.

    The students began to whisper.

  • Aku tahu ini akan menimbulkan percakapan.

    I knew this would spark a conversation.

  • Tapi aku melanjutkan, "Kita bisa memulai perubahan dari diri kita sendiri, dari sekolah kita.

    But I continued, "We can start the change from ourselves, from our school.

  • Dengan memisahkan sampah, dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

    By separating trash, by reducing the use of single-use plastics.

  • Kita bisa membuat perbedaan.

    We can make a difference."

  • "Ketika aku menyelesaikan pidatoku, tepuk tangan perlahan-lahan memenuhi aula.

    As I finished my speech, applause slowly filled the auditorium.

  • Beberapa teman berdiri, termasuk Budi yang tampak bangga.

    Some friends stood up, including Budi, who looked proud.

  • Di luar, hujan seolah menyertai tepuk tangan mereka, menciptakan nada latar yang menyentuh hati.

    Outside, the rain seemed to accompany their applause, creating a heartfelt background tone.

  • Setelah pidato, banyak teman mendekatiku dan ingin terlibat.

    After the speech, many friends approached me wanting to get involved.

  • Diskusi mengenai kebersihan dan lingkungan mulai mengalir.

    Discussions about cleanliness and the environment began to flow.

  • Beberapa bahkan membawa ide-ide baru untuk program kegiatan sekolah.

    Some even brought new ideas for school activity programs.

  • Sari menghampiriku dengan senyuman.

    Sari approached me with a smile.

  • "Kamu berani, Dewi.

    "You were brave, Dewi.

  • Dan sepertinya itu berhasil," katanya, meski dia sempat ragu soal topik ini.

    And it seems like it worked," she said, although she had initially doubted this topic.

  • Aku melihat perubahan kecil dalam dirinya, dan mungkin dalam diriku juga.

    I saw a small change in her, and perhaps in myself as well.

  • Hari itu, aku tidak hanya memberi pidato.

    That day, I didn't just give a speech.

  • Aku memulai percakapan yang perlu kita lakukan sejak lama.

    I started a conversation that we needed to have long ago.

  • Dan dalam perjalanan pulang, meski dibasahi gerimis, aku merasa lebih kuat dan penuh harapan.

    And on the way home, though drenched in drizzle, I felt stronger and more hopeful.

  • Kami adalah generasi yang bisa membuat perbedaan, dan hari ini adalah awal dari semuanya.

    We are the generation that can make a difference, and today was the beginning of it all.