
Graduation and Change: Dewi's Bold Farewell Speech
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Graduation and Change: Dewi's Bold Farewell Speech
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Hujan deras terdengar di luar gedung aula sekolah.
The heavy rain could be heard outside the school auditorium building.
Suara tetesannya memberi ritme yang menenangkan, seakan alam ikut serta dalam acara kelulusan kami.
The sound of the raindrops provided a calming rhythm, as if nature was participating in our graduation ceremony.
Teman-teman duduk rapi, menunggu giliran namaku dipanggil.
My friends sat neatly, waiting for my name to be called.
Aku, Dewi, berdiri di balik panggung dengan hati yang berdebar.
I, Dewi, stood behind the stage with a pounding heart.
Hari ini, di Sekolah Menengah Atas di Jakarta, aku harus memberikan pidato perpisahan.
Today, at High School in Jakarta, I had to deliver the farewell speech.
Aku menengok ke arah Budi, yang berdiri di sampingku.
I looked over at Budi, standing beside me.
Dia tersenyum membesarkan hati.
He smiled encouragingly.
"Kamu bisa, Dewi," katanya pelan.
"You can do it, Dewi," he said softly.
Aku tahu dia mendukungku, terutama dalam hal yang ingin kubicarakan: lingkungan dan manajemen sampah di sekolah ini.
I knew he supported me, especially on the topic I wanted to discuss: the environment and waste management at our school.
Sebaliknya, Sari duduk manis di deretan kursi pertama, mengangguk pelan saat kedua mata kami bertemu.
On the contrary, Sari sat primly in the front row, nodding slightly when our eyes met.
Sari lebih suka pidato yang aman, yang tidak menimbulkan kegaduhan.
Sari preferred a safe speech that wouldn't cause a stir.
Dia takut pada reaksi sekolah jika aku membahas isu sensitif.
She was afraid of the school's reaction if I raised sensitive issues.
Sebentar lagi perayaan Waisak.
Soon it would be Waisak celebrations.
Umat Buddha di seluruh negeri bersiap-siap untuk merayakan hari kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Siddharta Gautama.
Buddhists across the country were preparing to celebrate the birth, enlightenment, and passing of Siddhartha Gautama.
Ini adalah saat yang istimewa, dan aku merasa ada tanggung jawab lebih dalam menyampaikan pesan yang berarti hari ini.
It was a special moment, and I felt an added responsibility to convey a meaningful message today.
Panggilan untuk naik ke panggung akhirnya tiba.
The call to step onto the stage finally came.
Aku mengambil napas dalam-dalam dan melangkah ke hadapan teman-temanku.
I took a deep breath and walked in front of my friends.
Udara terasa lembap dan sesak, tapi juga penuh harapan.
The air felt humid and dense, but also full of hope.
Aku membuka pidato dengan senyuman, membiarkan suasana hening.
I began my speech with a smile, letting the silence envelop.
"Teman-teman sekalian," suaraku terdengar jernih.
"Friends," my voice rang clear.
"Hari ini kita berdiri di sini bukan hanya untuk merayakan kelulusan, tetapi juga untuk bersama-sama memandang masa depan.
"Today we stand here not only to celebrate graduation but also to look together towards the future.
Sebagai generasi yang akan datang, kita memiliki tanggung jawab besar bagi bumi kita.
As the next generation, we have a great responsibility for our earth."
"Aku menghentikan sejenak, melihat ke arah guruku yang duduk di barisan tengah.
I paused for a moment, looking at my teacher sitting in the middle row.
Ada sedikit kegelisahan di wajah mereka, mungkin khawatir tentang apa yang akan kukatakan selanjutnya.
There was a bit of anxiety on their faces, perhaps worried about what I would say next.
"Ada satu isu yang perlu kita hadapi," lanjutku, "dan itu adalah masalah sampah di sekolah kita.
"There is one issue we need to address," I continued, "and that is the trash problem at our school.
Setiap hari, kita melihat tempat sampah yang meluap, dan plastik yang berserakan.
Every day, we see overflowing trash bins and scattered plastics.
Ini bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang lingkungan.
This is not just about cleanliness, but also about the environment.
Kita bisa melakukan lebih baik.
We can do better."
"Para siswa mulai berbisik.
The students began to whisper.
Aku tahu ini akan menimbulkan percakapan.
I knew this would spark a conversation.
Tapi aku melanjutkan, "Kita bisa memulai perubahan dari diri kita sendiri, dari sekolah kita.
But I continued, "We can start the change from ourselves, from our school.
Dengan memisahkan sampah, dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
By separating trash, by reducing the use of single-use plastics.
Kita bisa membuat perbedaan.
We can make a difference."
"Ketika aku menyelesaikan pidatoku, tepuk tangan perlahan-lahan memenuhi aula.
As I finished my speech, applause slowly filled the auditorium.
Beberapa teman berdiri, termasuk Budi yang tampak bangga.
Some friends stood up, including Budi, who looked proud.
Di luar, hujan seolah menyertai tepuk tangan mereka, menciptakan nada latar yang menyentuh hati.
Outside, the rain seemed to accompany their applause, creating a heartfelt background tone.
Setelah pidato, banyak teman mendekatiku dan ingin terlibat.
After the speech, many friends approached me wanting to get involved.
Diskusi mengenai kebersihan dan lingkungan mulai mengalir.
Discussions about cleanliness and the environment began to flow.
Beberapa bahkan membawa ide-ide baru untuk program kegiatan sekolah.
Some even brought new ideas for school activity programs.
Sari menghampiriku dengan senyuman.
Sari approached me with a smile.
"Kamu berani, Dewi.
"You were brave, Dewi.
Dan sepertinya itu berhasil," katanya, meski dia sempat ragu soal topik ini.
And it seems like it worked," she said, although she had initially doubted this topic.
Aku melihat perubahan kecil dalam dirinya, dan mungkin dalam diriku juga.
I saw a small change in her, and perhaps in myself as well.
Hari itu, aku tidak hanya memberi pidato.
That day, I didn't just give a speech.
Aku memulai percakapan yang perlu kita lakukan sejak lama.
I started a conversation that we needed to have long ago.
Dan dalam perjalanan pulang, meski dibasahi gerimis, aku merasa lebih kuat dan penuh harapan.
And on the way home, though drenched in drizzle, I felt stronger and more hopeful.
Kami adalah generasi yang bisa membuat perbedaan, dan hari ini adalah awal dari semuanya.
We are the generation that can make a difference, and today was the beginning of it all.