
Accidental Peace: Dewi’s Chaotic Path to Serenity
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Accidental Peace: Dewi’s Chaotic Path to Serenity
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Dewi duduk di atas alas jerami, matanya terpejam, mencoba berkonsentrasi pada suara aliran sungai kecil yang mengalir di dekatnya.
Dewi sat on a straw mat, her eyes closed, trying to concentrate on the sound of the small stream flowing nearby.
Sejak tiba di retret spiritual di Bali, Dewi merasa skeptis.
Since arriving at the spiritual retreat in Bali, Dewi felt skeptical.
Apakah meditasi benar-benar bisa memberikan kedamaian batin?
Could meditation truly bring inner peace?
Namun, Budi, pemandu retret, selalu mengatakan, “Berada di sini memberi Anda kesempatan untuk melampaui keramaian dunia.”
However, Budi, the retreat guide, always said, “Being here gives you the opportunity to transcend the world's hustle and bustle.”
Pagi itu, udara sejuk dan sedikit angin berdesir di antara pepohonan palem.
That morning, the air was cool, and a gentle breeze rustled through the palm trees.
Ratna, teman sekamar Dewi, duduk bersebelahan, tampak sepenuhnya tenggelam dalam meditasi.
Ratna, Dewi's roommate, sat beside her, appearing fully immersed in meditation.
Namun, pikiran Dewi melayang kembali ke kehidupan kantor yang sibuk, dengan tenggat waktu dan rapat tanpa akhir.
However, Dewi's thoughts drifted back to her busy office life, with endless deadlines and meetings.
Di tengah latihannya, seekor monyet berekor panjang melompat dari atap.
In the middle of her practice, a long-tailed monkey jumped from the roof.
Ia dengan nakal merenggut tas Dewi dan menarik keluar kristal meditasi miliknya, barang yang dianggap kunci kedamaian oleh Budi.
It mischievously snatched Dewi's bag and pulled out her meditation crystal, an item Budi considered key to peace.
"Hei, kembalikan!" seru Dewi, terkejut.
“Hey, give it back!” Dewi exclaimed, surprised.
Monyet itu melompat dengan gesit, memegang kristal.
The monkey jumped nimbly, holding the crystal.
Tanpa pikir panjang, Dewi berdiri dan mengejarnya.
Without a second thought, Dewi stood up and chased after it.
Aturan utama di retret ini adalah untuk tetap tenang, namun hatinya gelisah melihat penjahat kecil itu.
The main rule at this retreat is to remain calm, but her heart was restless seeing the little thief.
"Budi, lihat! Monyet itu!" Dewi memanggil saat melintasi lapangan rumput hijau.
“Budi, look! The monkey!” Dewi called out as she ran across the green grass field.
Budi hanya tersenyum, mengetahui kejenakaan para monyet di sini sudah sering terjadi.
Budi just smiled, well aware of the antics of the monkeys here.
"Tetap tenang, Dewi," katanya dari kejauhan.
“Stay calm, Dewi,” he said from afar.
"Jangan biarkan dunia luar mengganggu ketenanganmu."
“Don’t let the outside world disturb your peace.”
Namun, Dewi tidak bisa diam.
However, Dewi could not stay still.
Ia berlari melewati sawah dan pohon, semakin mendekati monyet yang memanjat pohon beringin besar.
She ran past paddy fields and trees, getting closer to the monkey climbing a large banyan tree.
Akhirnya, monyet itu berhenti di puncak, mengayun-ayunkan kristal dengan penuh kesenangan.
Finally, the monkey stopped at the top, swinging the crystal with delight.
Dewi mendongak, terengah-engah, dan tertawa.
Dewi looked up, panting and laughing.
Semua usahanya tampak sia-sia menghadapi makhluk kecil ini.
All her efforts seemed in vain against this small creature.
Ratna dan peserta retret lainnya mulai berkumpul, tertawa bersama melihat situasi aneh itu.
Ratna and the other retreat participants began to gather, laughing together at the strange situation.
Ketegangan yang Dewi rasakan berangsur hilang.
The tension Dewi felt gradually faded.
Ternyata, kebahagiaan dan kedamaian lebih kuat daripada hanya sekedar objek fisik.
It turned out, happiness and peace were stronger than mere physical objects.
Dewi menyadari, di tengah kekacauan ini, ada pelajaran berharga.
Dewi realized, amidst this chaos, there was a valuable lesson.
Kedamaian tidak selalu datang dari kesempurnaan, tetapi dari penerimaan terhadap ketidaksempurnaan.
Peace does not always come from perfection, but from acceptance of imperfection.
Ia tersenyum, melihat kristal melambai dari tangan jalang itu, dan merasakan sebuah pencerahan sederhana namun mendalam.
She smiled, watching the crystal wave from the little rascal's hand, and felt a simple yet profound enlightenment.
Di bawah rimbunnya beringin, diiringi tawa teman-temannya, Dewi menemukan keheningan yang sejati.
Under the lush banyan tree, accompanied by her friends' laughter, Dewi found true serenity.
Itu bukan karena ketenangan, tetapi dari hatinya sendiri.
It was not due to tranquility, but from within her own heart.
Bagi Dewi, di tengah retret Bali yang asri, kedamaian batin telah ditemukan—bukan dari kristal, tetapi dari penyerahan dan tawa kebersamaan.
For Dewi, amidst the beautiful retreat of Bali, inner peace was found—not from the crystal, but from surrender and shared laughter.