
Budi's Journey: From Fear to Friendship on Gunung Bromo
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Budi's Journey: From Fear to Friendship on Gunung Bromo
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Gunung Bromo berdiri megah di depan Budi.
Gunung Bromo stood majestically in front of Budi.
Kabut tebal menutupi puncaknya yang menjulang, memberikan kesan misterius.
Thick fog covered its towering peak, giving it a mysterious feel.
Gemuruh petir dari kejauhan memberi peringatan akan turunnya hujan.
The rumbling thunder from afar warned of impending rain.
Budi dan teman-teman sekelasnya datang ke sini dalam rangka kunjungan lapangan sekolah.
Budi and his classmates came here for a school field trip.
Di tengah ramainya suara teman-temannya, Budi merasa gelisah.
Amidst the lively chatter of his friends, Budi felt restless.
Dia bertekad ingin berteman lebih dekat dengan teman sekelasnya, terutama Sari, yang dia segani.
He was determined to become closer friends with his classmates, especially Sari, whom he admired.
Budi berjalan di belakang Adi dan Sari.
Budi walked behind Adi and Sari.
Mereka terlihat akrab, sering saling bercanda.
They seemed close, often joking with each other.
Budi berusaha mencari cara untuk bergabung.
Budi tried to find a way to join in.
Namun, hujan mulai turun, membuat tanah menjadi licin.
However, the rain started to fall, making the ground slippery.
Rasanya, tidak hanya jalan yang sulit dilalui, tetapi juga interaksi sosial.
It felt like not only the path was difficult to navigate, but also the social interactions.
Di tengah perjalanan, Budi merasa terasing.
Along the journey, Budi felt isolated.
Saat itulah dia teringat kisah lucu tentang Gunung Bromo yang pernah diceritakan oleh kakeknya.
It was at that moment he remembered a funny story about Gunung Bromo that his grandfather had once told him.
"Apa kalian tahu," ujar Budi tiba-tiba dengan suara agak gemetar, "Legenda tentang Pangeran Joko dan Putri Bromo?
"Do you guys know," Budi suddenly said with a slightly shaky voice, "The legend about Pangeran Joko and Putri Bromo?"
"Adi dan Sari berhenti dan memperhatikannya.
Adi and Sari stopped and paid attention to him.
"Tidak, ceritain dong!
"No, tell us!"
" jawab Sari dengan senyumnya yang cerah, membuat Budi merasa sedikit lega.
replied Sari with her bright smile, making Budi feel a bit relieved.
Budi mulai bercerita.
Budi began to tell the story.
"Katanya, Pangeran Joko suatu waktu tersesat di gunung ini.
"They say, Pangeran Joko once got lost on this mountain.
Dia bertemu dengan Putri Bromo yang cantik dan memutuskan untuk bersembunyi di puncaknya agar bisa selalu melihat sang Putri dari kejauhan ketika kabut menghilang.
He met the beautiful Putri Bromo and decided to hide at its peak so he could always see the princess from afar when the fog cleared."
" Suaranya mulai stabil, dan teman-temannya tertawa ketika dia menambahkan bagian konyol dari cerita tersebut.
His voice began to stabilize, and his friends laughed as he added the funny parts of the story.
Namun, ketika hujan semakin deras, Budi terpeleset.
However, as the rain poured harder, Budi slipped.
Dia jatuh terduduk di tanah yang becek.
He fell seated on the muddy ground.
Sari cepat-cepat membantunya berdiri, memberikan sebuah tanya sambil tersenyum, "Kamu baik-baik saja?
Sari quickly helped him up, asking with a smile, "Are you okay?"
"Itu menjadi titik balik bagi Budi.
That was a turning point for Budi.
Melihat perhatian Sari, dia merasa lebih percaya diri.
Seeing Sari's attention, he felt more confident.
Sepanjang perjalanan, mereka berbagi cerita dan tawa, tidak lagi merasa terasing.
Throughout the journey, they shared stories and laughter, no longer feeling isolated.
Akhir dari perjalanan, saat mereka berkumpul di bawah sebuah pohon besar untuk berteduh, semua teman-temannya meminta Budi untuk melanjutkan ceritanya.
At the end of the trip, as they gathered under a big tree for shelter, all of his friends asked Budi to continue his story.
Dengan semangat, Budi melanjutkan kisah-kisahnya.
Enthusiastically, Budi continued his tales.
Kali ini dia yakin, dia diterima dan punya tempat di kelompoknya.
This time he was sure he was accepted and had a place in his group.
Ketika mereka berjalan turun, Budi merasa berbeda.
As they walked down, Budi felt different.
Hujan dan kabut tidak lagi menjadi penghalang.
The rain and fog were no longer obstacles.
Dia sudah mengatasi ketakutannya, dan pada akhirnya, menemukan kepercayaan diri untuk menjalin persahabatan yang tulus.
He had overcome his fears and, in the end, found the confidence to build genuine friendships.
Gunung Bromo tetap berdiri megah di belakang mereka, namun di dalam hati Budi, perjalanan itu sudah menorehkan kenangan yang indah.
Gunung Bromo still stood majestically behind them, but in Budi's heart, the journey had already etched beautiful memories.