
Finding Tradition: Bima's Galungan Market Quest
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Finding Tradition: Bima's Galungan Market Quest
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Bima berdiri di tengah pasar yang ramai, memandang sekeliling dengan mata penuh harapan.
Bima stood in the middle of the bustling market, looking around with hopeful eyes.
Ia ingin sekali membeli persembahan Galungan yang sempurna.
He really wanted to buy the perfect Galungan offering.
Bau kemenyan dan melati memenuhi udara, sementara suara gamelan mengiringi percakapan para penjual dan pembeli.
The scent of incense and jasmine filled the air, while the sounds of gamelan accompanied the conversations of the sellers and buyers.
Indira, adik perempuan Bima, penuh semangat.
Indira, Bima's younger sister, was full of excitement.
Dia berlari ke sana kemari, matanya berbinar melihat kerajinan dan bunga warna-warni.
She ran back and forth, her eyes sparkling at the crafts and colorful flowers.
Namun, kegiatannya membuat Bima sedikit kewalahan.
However, her activity made Bima a little overwhelmed.
Ia harus fokus.
He needed to focus.
"Indira, tetap dekat, ya!
"Indira, stay close, okay!"
" seru Bima, mencoba mengawasi adiknya.
called Bima, trying to keep an eye on his sister.
Mereka sudah mencari selama beberapa waktu, tapi harga di banyak kios lebih mahal dari yang diperhitungkan Bima.
They had been searching for some time, but the prices at many stalls were higher than Bima had anticipated.
Kemudian, mereka bertemu Rizal.
Then, they met Rizal.
Dia adalah penjual yang pandai menarik perhatian dengan kata-kata bijaknya.
He was a seller who was skilled at attracting attention with his wise words.
Rizal mengulurkan tangan ramah, menawarkan bantuan.
Rizal extended a friendly hand, offering help.
"Bima, mungkin butuh sedikit bimbingan?
"Bima, maybe you need a little guidance?
Pasar ini memang bisa membingungkan," Rizal berkata sambil tersenyum.
This market can indeed be confusing," Rizal said with a smile.
Bima ragu.
Bima hesitated.
Dia ingin menyelesaikan ini sendiri, membuktikan pada keluarganya bahwa ia bisa menjaga tradisi.
He wanted to finish this on his own, to prove to his family that he could uphold tradition.
Tapi, di satu sisi, bantuan kelihatannya tidak buruk.
But, on the other hand, help didn't seem so bad.
Melihat Indira yang masih sibuk dengan bunga, Bima akhirnya setuju mendengarkan Rizal.
Seeing Indira still busy with flowers, Bima finally agreed to listen to Rizal.
Rizal membawa mereka ke bagian pasar yang lebih tenang, jauh dari keramaian utama.
Rizal led them to a quieter part of the market, away from the main crowd.
Di sana, tersembunyi sebuah kios dengan persembahan yang indah dan terjangkau.
There, hidden away, was a stall with beautiful and affordable offerings.
Mata Bima berbinar.
Bima's eyes sparkled.
"Ini dia!
"This is it!
Tepat yang ku cari!
Exactly what I've been looking for!"
" kata Bima dengan lega.
Bima said with relief.
Sambil menunggu barang dibungkus, Rizal bercerita tentang pentingnya Galungan.
While waiting for the items to be wrapped, Rizal shared about the importance of Galungan.
"Ini bukan sekedar persembahan, tapi juga penghormatan pada leluhur dan menjaga keseimbangan dharma," katanya lembut.
"It is not just an offering, but also a way to honor ancestors and maintain the balance of dharma," he said gently.
Mendengarnya, Bima merasakan kebanggaan muncul dalam dirinya.
Upon hearing this, Bima felt a sense of pride arise within him.
Ia mengerti lebih dalam arti dari tradisi yang keluarganya lestarikan.
He understood more deeply the meaning of the tradition his family preserved.
Keduanya, Bima dan Indira, akhirnya pulang dengan barang yang dibutuhkan dan pengalaman berharga.
Both Bima and Indira finally returned home with the items they needed and a valuable experience.
Saat matahari terbenam di balik Candi Tersembunyi, Bima merasa lebih percaya diri.
As the sun set behind the Hidden Temple, Bima felt more confident.
Dia tahu betapa pentingnya peran komunitas dalam menjaga budaya.
He knew how important the role of the community was in preserving culture.
Terima kasih untuk Rizal, ia bukan hanya pulang dengan persembahan, tapi juga pelajaran yang tak terlupakan.
Thanks to Rizal, he didn't just come home with offerings, but also with an unforgettable lesson.
Galungan kali ini adalah awal yang baru bagi Bima.
This Galungan was a new beginning for Bima.
Ia telah menunjukkan bahwa ia bisa, tidak hanya kepada keluarga, tapi juga pada dirinya sendiri.
He had shown that he could, not only to his family but also to himself.