
A Chance Encounter: Ayu and the Unexpected Journey
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
A Chance Encounter: Ayu and the Unexpected Journey
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Ayu merasa semangat pagi itu.
Ayu felt enthusiastic that morning.
Hujan turun perlahan, membuat aroma tanah basah mengisi udara.
Rain fell slowly, filling the air with the scent of wet earth.
Di Ubud, suasana meriah terasa khas saat Tahun Baru Imlek.
In Ubud, the festive atmosphere felt distinct during the Chinese New Year.
Lampion-lampion merah menggantung tinggi, menerangi jalanan dengan cahaya hangat.
Red lanterns hung high, illuminating the streets with warm light.
Di pasar seni yang ramai, Ayu sibuk mengatur barang-barangnya.
At the bustling art market, Ayu was busy arranging her goods.
Lukisan-lukisan yang penuh warna menghiasi stan kecilnya.
Colorful paintings adorned her small booth.
Orang-orang datang dan pergi, menawar hasil karyanya.
People came and went, bargaining for her artwork.
Ayu berharap hari ini banyak pengunjung yang tertarik.
Ayu hoped today many visitors would be interested.
Di antara kerumunan, seorang pria muda berwajah bingung berjalan lambat.
Amid the crowd, a young man with a confused face walked slowly.
Namanya Budi, seorang turis yang datang ke Bali untuk mencari suasana berbeda.
His name was Budi, a tourist who came to Bali to seek a different atmosphere.
Namun, Budi tiba-tiba merasa tidak nyaman.
However, Budi suddenly felt uncomfortable.
Sesak napas dan pusing menyerangnya.
Shortness of breath and dizziness attacked him.
Dia punya alergi, tetapi tidak tahu apa yang memicunya kali ini.
He had an allergy, but didn't know what triggered it this time.
Ayu melihat Budi terhuyung-huyung.
Ayu saw Budi staggering.
Ia segera menghampiri, “Kamu baik-baik saja?
She immediately approached, "Are you okay?"
” tanyanya khawatir.
she asked worriedly.
Budi menggeleng lemah, berusaha mengambil napas lega.
Budi weakly shook his head, trying to take a deep breath.
Kerumunan semakin ramai, membuatnya sulit bernapas.
The crowd was getting bigger, making it difficult for him to breathe.
Ayu tahu dia harus bertindak cepat.
Ayu knew she had to act quickly.
Namun, meninggalkan stan artinya dia bisa kehilangan peluang menjual.
However, leaving the booth meant she could lose the opportunity to sell.
Tapi hati kecilnya berkata untuk membantu.
But her conscience told her to help.
Budi butuh pertolongan sekarang.
Budi needed help now.
"Bisakah kamu duduk sebentar di sini?
"Can you sit here for a moment?"
" Ayu menawarkan kursi di balik meja.
Ayu offered a chair behind the table.
Dia lalu berpaling ke penjual sebelahnya, Pak Made, seorang pria tua baik hati.
She then turned to the vendor next to her, Pak Made, a kind-hearted old man.
“Pak Made, tolong bantu jaga stan saya sebentar.
"Pak Made, please help watch my booth for a moment.
Saya harus cari pertolongan,” kata Ayu dengan nada meminta.
I need to find help," said Ayu pleadingly.
Pak Made mengangguk, memahami situasi.
Pak Made nodded, understanding the situation.
Ayu kemudian berlari menembus kerumunan, mencari seseorang yang bisa menolong.
Ayu then ran through the crowd, searching for someone who could help.
Di sudut pasar, dia melihat seorang dukun lokal, Ibu Komang, yang dikenal dapat mengobati banyak penyakit.
In the corner of the market, she saw a local healer, Ibu Komang, known for treating many ailments.
“Ibu Komang, tolong bantu!
"Ibu Komang, please help!
Ada turis yang butuh pertolongan,” Ayu memohon dengan napas tersengal.
There is a tourist in need," Ayu pleaded, breathless.
Ibu Komang mendengarkan dengan tenang.
Ibu Komang listened calmly.
“Baiklah, ayo kita lihat dia,” jawabnya seraya mengikuti Ayu kembali ke stan.
"Alright, let's go see him," she replied, following Ayu back to the booth.
Di sana, kondisi Budi sedikit lebih baik setelah mendapat tempat duduk dan minum air.
There, Budi's condition was slightly better after getting a seat and drinking some water.
Ibu Komang menyapa, melihat kondisi Budi dan menyiapkan ramuan herbal.
Ibu Komang greeted him, assessed his condition, and prepared an herbal concoction.
Ayu mengamati dengan harap-harap cemas.
Ayu watched anxiously.
Sesaat kemudian, setelah minum ramuan, Budi perlahan membaik.
A moment later, after drinking the remedy, Budi gradually improved.
Nafasnya mulai teratur, dan warna di wajahnya kembali segar.
His breathing became regular, and the color returned to his face.
Dia tersenyum lemah pada Ayu.
He smiled weakly at Ayu.
"Terima kasih banyak.
"Thank you so much.
Saya tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuanmu.
I don't know what I would have done without your help."
"Ayu tersenyum lega.
Ayu smiled with relief.
“Syukurlah kamu sudah lebih baik.
"I'm glad you're better.
Kalau lain kali ke Bali, hati-hati ya, dan bawa obat kalau-kalau alergi terserang lagi.
Next time you're in Bali, be careful, and bring medication in case your allergy strikes again."
”Budi mengangguk.
Budi nodded.
“Pasti.
"Certainly.
Dan terima kasih, Ayu.
And thank you, Ayu.
Aku suka lukisan-lukisanmu.
I love your paintings.
Aku akan membagikan karyamu ke teman-temanku di luar negeri.
I will share your work with my friends abroad.
Dan kalau kamu ingin, datanglah ke negaraku.
And if you want, come to my country.
Kamu bisa pamerkan karyamu di sana.
You can exhibit your work there."
”Ayu tertegun sebentar.
Ayu was stunned for a moment.
Perjalanan keluar negeri adalah impian yang lama terpendam.
Traveling abroad was a long-buried dream.
Dengan bantuan dan undangan Budi, ia menyadari kemungkinan baru terbuka.
With Budi's help and invitation, she realized new possibilities were opening.
Membantu Budi bukan hanya tindakan kebaikan, tapi juga pembuka jalan baru untuknya.
Helping Budi was not only an act of kindness but also a new opportunity for her.
Pasar kembali ramai saat malam tiba, tetapi di hati Ayu, terasa lebih ringan.
The market became busy again as night fell, but in Ayu's heart, it felt lighter.
Dia belajar bahwa dengan menolong orang lain, kita juga membuka pintu menuju kemungkinan yang lebih besar.
She learned that by helping others, we also open doors to greater possibilities.
Di bawah sinar lampion yang berkilauan, Ayu merasa bersyukur, bersemangat menyambut hari baru dan kemungkinan-kemungkinan yang menantinya di depan.
Under the shimmering light of the lanterns, Ayu felt grateful, excited to welcome the new day and the possibilities that awaited her ahead.