FluentFiction - Indonesian

A Chance Encounter: Ayu and the Unexpected Journey

FluentFiction - Indonesian

Unknown DurationJanuary 31, 2026
Checking access...

Loading audio...

A Chance Encounter: Ayu and the Unexpected Journey

1x
0:000:00

Sign in for Premium Access

Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.

View Mode:
  • Ayu merasa semangat pagi itu.

    Ayu felt enthusiastic that morning.

  • Hujan turun perlahan, membuat aroma tanah basah mengisi udara.

    Rain fell slowly, filling the air with the scent of wet earth.

  • Di Ubud, suasana meriah terasa khas saat Tahun Baru Imlek.

    In Ubud, the festive atmosphere felt distinct during the Chinese New Year.

  • Lampion-lampion merah menggantung tinggi, menerangi jalanan dengan cahaya hangat.

    Red lanterns hung high, illuminating the streets with warm light.

  • Di pasar seni yang ramai, Ayu sibuk mengatur barang-barangnya.

    At the bustling art market, Ayu was busy arranging her goods.

  • Lukisan-lukisan yang penuh warna menghiasi stan kecilnya.

    Colorful paintings adorned her small booth.

  • Orang-orang datang dan pergi, menawar hasil karyanya.

    People came and went, bargaining for her artwork.

  • Ayu berharap hari ini banyak pengunjung yang tertarik.

    Ayu hoped today many visitors would be interested.

  • Di antara kerumunan, seorang pria muda berwajah bingung berjalan lambat.

    Amid the crowd, a young man with a confused face walked slowly.

  • Namanya Budi, seorang turis yang datang ke Bali untuk mencari suasana berbeda.

    His name was Budi, a tourist who came to Bali to seek a different atmosphere.

  • Namun, Budi tiba-tiba merasa tidak nyaman.

    However, Budi suddenly felt uncomfortable.

  • Sesak napas dan pusing menyerangnya.

    Shortness of breath and dizziness attacked him.

  • Dia punya alergi, tetapi tidak tahu apa yang memicunya kali ini.

    He had an allergy, but didn't know what triggered it this time.

  • Ayu melihat Budi terhuyung-huyung.

    Ayu saw Budi staggering.

  • Ia segera menghampiri, “Kamu baik-baik saja?

    She immediately approached, "Are you okay?"

  • ” tanyanya khawatir.

    she asked worriedly.

  • Budi menggeleng lemah, berusaha mengambil napas lega.

    Budi weakly shook his head, trying to take a deep breath.

  • Kerumunan semakin ramai, membuatnya sulit bernapas.

    The crowd was getting bigger, making it difficult for him to breathe.

  • Ayu tahu dia harus bertindak cepat.

    Ayu knew she had to act quickly.

  • Namun, meninggalkan stan artinya dia bisa kehilangan peluang menjual.

    However, leaving the booth meant she could lose the opportunity to sell.

  • Tapi hati kecilnya berkata untuk membantu.

    But her conscience told her to help.

  • Budi butuh pertolongan sekarang.

    Budi needed help now.

  • "Bisakah kamu duduk sebentar di sini?

    "Can you sit here for a moment?"

  • " Ayu menawarkan kursi di balik meja.

    Ayu offered a chair behind the table.

  • Dia lalu berpaling ke penjual sebelahnya, Pak Made, seorang pria tua baik hati.

    She then turned to the vendor next to her, Pak Made, a kind-hearted old man.

  • “Pak Made, tolong bantu jaga stan saya sebentar.

    "Pak Made, please help watch my booth for a moment.

  • Saya harus cari pertolongan,” kata Ayu dengan nada meminta.

    I need to find help," said Ayu pleadingly.

  • Pak Made mengangguk, memahami situasi.

    Pak Made nodded, understanding the situation.

  • Ayu kemudian berlari menembus kerumunan, mencari seseorang yang bisa menolong.

    Ayu then ran through the crowd, searching for someone who could help.

  • Di sudut pasar, dia melihat seorang dukun lokal, Ibu Komang, yang dikenal dapat mengobati banyak penyakit.

    In the corner of the market, she saw a local healer, Ibu Komang, known for treating many ailments.

  • “Ibu Komang, tolong bantu!

    "Ibu Komang, please help!

  • Ada turis yang butuh pertolongan,” Ayu memohon dengan napas tersengal.

    There is a tourist in need," Ayu pleaded, breathless.

  • Ibu Komang mendengarkan dengan tenang.

    Ibu Komang listened calmly.

  • “Baiklah, ayo kita lihat dia,” jawabnya seraya mengikuti Ayu kembali ke stan.

    "Alright, let's go see him," she replied, following Ayu back to the booth.

  • Di sana, kondisi Budi sedikit lebih baik setelah mendapat tempat duduk dan minum air.

    There, Budi's condition was slightly better after getting a seat and drinking some water.

  • Ibu Komang menyapa, melihat kondisi Budi dan menyiapkan ramuan herbal.

    Ibu Komang greeted him, assessed his condition, and prepared an herbal concoction.

  • Ayu mengamati dengan harap-harap cemas.

    Ayu watched anxiously.

  • Sesaat kemudian, setelah minum ramuan, Budi perlahan membaik.

    A moment later, after drinking the remedy, Budi gradually improved.

  • Nafasnya mulai teratur, dan warna di wajahnya kembali segar.

    His breathing became regular, and the color returned to his face.

  • Dia tersenyum lemah pada Ayu.

    He smiled weakly at Ayu.

  • "Terima kasih banyak.

    "Thank you so much.

  • Saya tidak tahu harus bagaimana tanpa bantuanmu.

    I don't know what I would have done without your help."

  • "Ayu tersenyum lega.

    Ayu smiled with relief.

  • “Syukurlah kamu sudah lebih baik.

    "I'm glad you're better.

  • Kalau lain kali ke Bali, hati-hati ya, dan bawa obat kalau-kalau alergi terserang lagi.

    Next time you're in Bali, be careful, and bring medication in case your allergy strikes again."

  • ”Budi mengangguk.

    Budi nodded.

  • “Pasti.

    "Certainly.

  • Dan terima kasih, Ayu.

    And thank you, Ayu.

  • Aku suka lukisan-lukisanmu.

    I love your paintings.

  • Aku akan membagikan karyamu ke teman-temanku di luar negeri.

    I will share your work with my friends abroad.

  • Dan kalau kamu ingin, datanglah ke negaraku.

    And if you want, come to my country.

  • Kamu bisa pamerkan karyamu di sana.

    You can exhibit your work there."

  • ”Ayu tertegun sebentar.

    Ayu was stunned for a moment.

  • Perjalanan keluar negeri adalah impian yang lama terpendam.

    Traveling abroad was a long-buried dream.

  • Dengan bantuan dan undangan Budi, ia menyadari kemungkinan baru terbuka.

    With Budi's help and invitation, she realized new possibilities were opening.

  • Membantu Budi bukan hanya tindakan kebaikan, tapi juga pembuka jalan baru untuknya.

    Helping Budi was not only an act of kindness but also a new opportunity for her.

  • Pasar kembali ramai saat malam tiba, tetapi di hati Ayu, terasa lebih ringan.

    The market became busy again as night fell, but in Ayu's heart, it felt lighter.

  • Dia belajar bahwa dengan menolong orang lain, kita juga membuka pintu menuju kemungkinan yang lebih besar.

    She learned that by helping others, we also open doors to greater possibilities.

  • Di bawah sinar lampion yang berkilauan, Ayu merasa bersyukur, bersemangat menyambut hari baru dan kemungkinan-kemungkinan yang menantinya di depan.

    Under the shimmering light of the lanterns, Ayu felt grateful, excited to welcome the new day and the possibilities that awaited her ahead.