
Harmony in the Rain: A Boarding School's Cultural Night
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Harmony in the Rain: A Boarding School's Cultural Night
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Hujan turun tanpa henti di sekolah asrama itu.
Rain fell relentlessly at the boarding school.
Pohon-pohon tinggi di sekelilingnya berdiri tegak, basah oleh rintik hujan yang tak kunjung reda.
The tall trees surrounding it stood upright, wet from the never-ending drizzles.
Namun, semangat Dewi tetap menyala, berkobar terang lebih dari cahaya matahari yang tersembunyi di balik awan hitam.
Nevertheless, Dewi's spirit remained bright, shining more than the sunlight hidden behind the dark clouds.
Ia berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh teman-temannya yang sibuk dengan persiapan malam budaya tahunan sekolah.
She stood in the middle of the hall, surrounded by her friends, busy preparing for the school's annual cultural night.
“Saya ingin acara ini mengesankan semua orang,” kata Dewi dengan penuh semangat.
“I want this event to impress everyone,” said Dewi eagerly.
“Kita akan menampilkan berbagai tradisi Indonesia yang kaya dan indah.”
“We will showcase the various rich and beautiful Indonesian traditions.”
Tapi cuaca ternyata bukan sekadar penghias suasana.
But the weather turned out to be more than just a mood-enhancer.
Hujan memperlambat persiapan, membuat latihan di luar ruangan menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.
The rain slowed down preparations, making outdoor rehearsals a challenging task.
Aula menjadi tempat perlindungan sementara, namun ruangnya terbatas untuk semua pertunjukan yang direncanakan.
The hall became a temporary refuge, but its space was limited for all the planned performances.
Di antara semua persiapan ini, ada Rizal, seorang siswa pendiam dengan bakat musik luar biasa.
Among all these preparations, there was Rizal, a quiet student with an extraordinary musical talent.
Dewi sangat ingin melihat Rizal bergabung, tetapi Rizal selalu enggan melibatkan dirinya dalam acara besar.
Dewi was eager for Rizal to participate, but he was always hesitant to involve himself in major events.
Malam itu, saat hujan semakin deras, Dewi memutuskan untuk berbicara dengan Rizal.
That evening, as the rain poured harder, Dewi decided to talk to Rizal.
"Rizal, kami benar-benar membutuhkan bakatmu.
"Rizal, we really need your talent.
Semua orang akan senang melihatmu tampil," katanya berharap.
Everyone would love to see you perform," she said hopefully.
Rizal terdiam sejenak.
Rizal was silent for a moment.
“Saya tidak yakin bisa tampil di depan banyak orang,” jawabnya dengan pelan.
“I'm not sure I can perform in front of a large crowd,” he replied softly.
Dewi tersenyum lembut.
Dewi smiled gently.
“Kamu tidak sendirian, Rizal.
“You’re not alone, Rizal.
Kita semua di sini untuk mendukung satu sama lain.
We’re all here to support each other.
Ini tentang menunjukkan siapa kita dan merayakan keindahan budaya kita.”
It's about showing who we are and celebrating the beauty of our culture.”
Kata-kata Dewi menyentuh hati Rizal.
Dewi’s words touched Rizal's heart.
Ia mengangguk pelan, akhirnya setuju untuk bergabung dalam pertunjukan.
He nodded slowly, finally agreeing to join the show.
Dewi merasa lega, tahu bahwa kehadiran Rizal akan membawa energi baru untuk acara tersebut.
Dewi felt relieved, knowing that Rizal's presence would bring new energy to the event.
Hari malam budaya tiba, gerimis masih membasahi bumi tetapi tidak menghalangi semangat para siswa.
The cultural night arrived, the drizzle still wetting the earth but not dampening the students’ spirits.
Aula dipenuhi oleh warna-warna cerah pakaian tradisional.
The hall was filled with the bright colors of traditional attire.
Pertunjukan demi pertunjukan mengagumkan semua yang hadir.
Performance after performance amazed everyone present.
Ketika tiba giliran Rizal, suasana menjadi hening.
When it was Rizal's turn, the atmosphere grew silent.
Dengan tarikan napas dalam, Rizal mengalunkan lagu tradisional Indonesia dengan suara merdu yang menggema ke seluruh ruangan.
With a deep breath, Rizal sang a traditional Indonesian song with a melodious voice that resonated throughout the room.
Semua yang mendengar terkesima.
Everyone who listened was entranced.
Tepuk tangan bergemuruh saat Rizal menyelesaikan penampilannya.
Applause roared as Rizal finished his performance.
Kebanggaan dan kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.
Pride and happiness were clearly reflected on his face.
Malam itu, sekolah asrama kecil itu menyaksikan persatuan yang terasa dalam-implisit dalam tiap denting nada musik dan semangat anak-anak muda yang berkumpul bersama.
That night, the small boarding school witnessed a unity felt implicitly in every note of music and the spirit of the young people gathered together.
Dewi belajar bahwa kesabaran dan usaha untuk mengenal lebih dalam bisa mengungkap potensi tersembunyi.
Dewi learned that patience and effort to understand deeper can reveal hidden potentials.
Rizal kini merasa lebih percaya diri dan diterima.
Rizal now felt more confident and accepted.
Malam budaya itu mengukir kenangan manis yang tidak akan mudah dilupakan, penuh dengan tawa dan persahabatan yang semakin erat.
That cultural night carved sweet memories that would not be easily forgotten, filled with laughter and friendships that grew stronger.