
Candlelit Connections: A Family Reunion in Yogyakarta
FluentFiction - Indonesian
Loading audio...
Candlelit Connections: A Family Reunion in Yogyakarta
Sign in for Premium Access
Sign in to access ad-free premium audio for this episode with a FluentFiction Plus subscription.
Di rumah keluarga besar di Yogyakarta, aroma masakan khas Tionghoa tercium di udara.
In the large family house in Yogyakarta, the aroma of traditional Chinese cuisine wafted through the air.
Dewi, baru kembali ke Indonesia setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri, merasa bersemangat dan sedikit gugup.
Dewi, having just returned to Indonesia after many years abroad, felt excited and a little nervous.
Hari itu, keluarga berkumpul untuk merayakan Imlek.
That day, the family gathered to celebrate Imlek.
Hujan deras turun tak henti-hentinya, seolah memberikan tantangan tambahan untuk rencana Dewi.
Heavy rain poured incessantly, seemingly giving Dewi's plans an extra challenge.
Dewi berdiri di depan jendela besar, mengamati tetesan air yang membasahi taman.
Dewi stood in front of a large window, watching the raindrops soak the garden.
Dia mengingat masa kecilnya, bermain di halaman itu, merasakan rindu akan kenangan indah bersama keluarga.
She recalled her childhood, playing in that yard, feeling a longing for the beautiful memories with her family.
Dewi bertekad mengadakan makan malam reuni yang tak terlupakan demi mengenang akar budayanya.
Dewi was determined to host an unforgettable reunion dinner to honor her cultural roots.
Adi, adiknya yang lebih muda, duduk di sudut ruangan dengan wajah murung.
Adi, her younger sibling, sat in the corner of the room with a sullen face.
Dia merasa terlupakan, seperti bayangan dari kesuksesan Dewi.
He felt forgotten, like a shadow of Dewi's success.
Rina, sepupu mereka yang bijaksana, duduk di antara mereka, mencoba mencairkan suasana dengan berbicara hal-hal ringan.
Rina, their wise cousin, sat between them, trying to lighten the mood with small talk.
"Hujannya tidak berhenti," kata Dewi, mencoba tersenyum meski sedikit cemas.
"The rain isn't stopping," said Dewi, trying to smile despite being a bit anxious.
"Sepertinya kita harus pindah ke dalam."
"It seems we should move inside."
Rina mengangguk, sementara Adi hanya mengedikkan bahu.
Rina nodded, while Adi just shrugged.
Rina kemudian berkata, "Dewi, mungkin Adi bisa membantu kamu mempersiapkan meja?"
Rina then said, "Dewi, maybe Adi could help you set up the table?"
Dewi menatap Adi dengan harapan.
Dewi looked at Adi with hope.
"Bisa bantu aku, Di? Mungkin kita bisa menyusun hidangan bersama?"
"Can you help me, Di? Maybe we can arrange the dishes together?"
Adi terkejut.
Adi was surprised.
Dewi jarang meminta bantuannya.
Dewi rarely asked for his help.
Pelan-pelan, dia berdiri dan mengikuti Dewi menuju dapur.
Slowly, he stood up and followed Dewi to the kitchen.
Hari semakin malam. Di luar, hujan makin deras.
As the evening wore on, the rain outside grew heavier.
Suasana dalam rumah berubah hangat dengan lampu-lampu gantung berkilauan dan meja panjang penuh makanan lezat.
The atmosphere inside the house turned warm with sparkling chandeliers and a long table full of delicious food.
Meski begitu, suasana sempat tegang ketika tiba-tiba listrik padam.
However, a tense moment came when the power suddenly went out.
Rumah mendadak gelap gulita.
The house was plunged into total darkness.
Namun, alih-alih panik, Dewi segera mencari lilin.
Instead of panicking, Dewi quickly searched for candles.
Adi dan Rina membantu menyalakannya satu per satu.
Adi and Rina helped light them one by one.
Dengan cepat, ruangan dipenuhi cahaya lilin yang lembut.
Soon, the room was softly illuminated by candlelight.
Dewi memikirkan cara lain agar suasana tetap hangat.
Dewi thought of another way to keep the atmosphere warm.
"Kita bisa bercerita sambil menunggu lampu kembali," saran Dewi sambil tersenyum.
"We can tell stories while waiting for the lights to come back," suggested Dewi with a smile.
Semua setuju, dan satu per satu mulai berbagi cerita lucu dan kenangan masa kecil.
Everyone agreed, and one by one began to share funny stories and childhood memories.
Tawa pecah di antara mereka, mencairkan sisa ketegangan.
Laughter broke out among them, melting away the remaining tension.
Dalam kegelapan dan kehangatan sinar lilin, Dewi merasa menemukan kembali makna penting dari kebersamaan.
In the darkness and warmth of the candlelight, Dewi felt she rediscovered the importance of togetherness.
Begitu pula Adi.
So did Adi.
Saat senyum mulai tulus menghiasi wajahnya, dia menyadari betapa berartinya keluarga.
As a genuine smile began to appear on his face, he realized the significance of family.
Seolah merayakan kedekatan yang baru ditemukan, lampu tiba-tiba menyala.
As if celebrating the newfound closeness, the lights suddenly turned back on.
Semua bersorak, merasa terhubung kembali bukan hanya lewat cahaya, tapi juga rasa kebersamaan yang tulus.
Everyone cheered, feeling reconnected not just through the light but also through a sincere sense of togetherness.
Di akhir malam itu, Dewi melihat sekeliling dan berkata, "Terima kasih telah hadir bersama di momen ini."
At the end of the night, Dewi looked around and said, "Thank you for being here in this moment."
Adi mengangguk, merasa lebih diterima dan diakui.
Adi nodded, feeling more accepted and acknowledged.
Rina tersenyum puas, melihat keluarga kembali bersatu dalam sukacita dan cinta.
Rina smiled satisfied, seeing the family reunited in joy and love.
Semesta sepertinya berkonspirasi mendekatkan mereka pada nilai-nilai yang sebenarnya.
The universe seemed to conspire to draw them closer to their true values.
Di rumah besar di Yogyakarta itu, di bawah hujan yang tak kunjung reda, cinta dan kebersamaan kembali menemukan jalannya.
In that large house in Yogyakarta, under the never-ending rain, love and togetherness found their way back.